Angkasa yang Diambil

Angkasa yang Diambil
(sebuah sudut pandang)


Matahari terbit dari senyumnya. Lepas tawanya turunkan surgawi. Tangisnya ruahkan hujan. Amarahnya kuasakan petir. Kecewa sedihnya padamkan langit. Ialah sang angkasa. Ibuku adalah angkasa itu. 

Hari ini surya hadir di matanya. Menyilat-nyilat terang sampai kutakut buta karenanya. Ia membawa 2 ekor ikan sesegar air mukanya. Kali ini satu ekor untukku dan satu lagi untuknya. Kami makan bersama, menyantap berdua. Tak lagi hanya aku yang makan. Tubuhnya yang ringkih kini bisa mendapat asupan.

Namun detik itu aku sadar, suryanya tak cukup terang untuk menutup lebam-lebam di wajahnya, di kakinya, di seluruh tubuhnya. Benar kata orang, tak ada yang gratis di dunia ini. Ia membayar ikan-ikan itu dengan raganya. Dan harga mereka tampaknya tak murah. Cukup mahal untuk membuat kakinya sulit bertahan tegak.

Malam ini kudengar rerintik menepuk tanah. Hujan kemudian menjerit, tapi ia menahannya supaya bunyinya tak keras-keras. Agar nyaringnya tak sampai di telingaku. Sayang ia gagal.

Esoknya aku berbincang dengannya. Aku berniat menghiburnya. Aku ingin memperbaiki suasana hatinya.

Ia sangat menghargaiku, ia turunkan megah surgawi di depan hidungku. Tapi surga itu tak begitu nyata. Tawanya padaku, palsu.

Esoknya lagi dunia senyap. Matahari tak sehangat biasanya. Pula pekat awan, namun air tak kunjung tumpah. Sang Angkasa hanya diam. Terlelap damai.

Hari-hari berikutnya tetap sama. Ia tetap di tempatnya, segan untuk bergerak. Aku mulai lapar, begitupun dengannya. Maka aku yang akan menggantikannya melakukan kegiatan itu. Kucari makanan di tengah hiruk-pikuk asing yang tak kumengerti.

Aku mendapat makanan, namun tak selezat yang biasa ia bawakan. Dan tak cukup banyak untuk memuaskan perut kami berdua. Aku berjanji padanya akan memberi yang lebih baik esok hari. Hari ini cukup ini saja. Lagipula bisa dibilang ini adalah pengalaman pertamaku. Bukankah aku sudah cukup beruntung untuk bisa mendapatkan apa yang kini kudapatkan?

Namun Sang Angkasa tak mau menyentuh porsinya. Ia tak mau makan. Seperti biasa, ia selalu memprioritaskanku. Ia inginkan aku kenyang. Urusan perutnya akhir-akhir saja. Maka kuturuti maunya. Hari ini saja.

Kali ini aku membawa makanan lebih banyak. Tetap tak selezat ikan-ikan Ibu. Namun harga yang kubayar nyaris sama dengan ikan-ikan itu. Lebam-lebam Ibu kini mulai terlihat di tubuhku. Jalanku pun pincang untuk beberapa hari. Tak apa-apa, asal Ibu mau makan. Namun lagi-lagi Sang Angkasa tetap diam. Ia tak mau menyentuh makanannya. Sepertinya ia ingin aku makan lebih banyak dari biasanya, supaya lebam-lebam itu lekas hilang. Maka kuturuti lagi maunya. Satu hari ini lagi saja.

Tiba-tiba manusia-manusia menjulang tinggi datang menghampiri kami. Mereka tak main-main menakutkan. Sorot mata mereka semua tajam, seolah sanggup membelah kami menjadi dua--atau mungkin empat. Dan itu lebih mengerikan dari ketika aku mendapatkan lebam-lebam itu. Aku takut. Aku takut mereka berniat menyakiti Ibu. Mereka sungguh mengerikan. Aku tak akan mampu menghadapi mereka.

Benar dugaanku. Mereka hendak menyakiti Ibu. Mereka dekati tubuh Ibu yang terbaring lemah. Salah seorang dari mereka menjulurkan tangannya yang berbau aneh. Dia meraih tubuh ibuku, dan dengan kejam mengangkatnya seolah bukan apa-apa. Aku, di akhir kesempatanku, memukul dan mencakar mereka, berusaha menghalangi mereka walau mustahil. Namun aku terus gagal, dan tanpa sadar aku memekik. Anehnya, mereka justru ikut membawaku. Mengucap kata-kata aneh yang tak bisa kumengerti. Aku ingin menangis. Apa yang akan mereka lakukan pada kami? Mereka apakan Ibu? Aku menjerit sekeras-kerasnya, tapi yang manusia-manusia itu lakukan hanya menepukku. Aku ingin mereka melepaskan ibuku. Cukup bawa saja aku.

Namun mereka lagi-lagi mengatakan hal yang sama. Hal yang tak bisa kupahami.

"Tenanglah. Ibumu sudah meninggal, kami akan mengurus jasadnya. Dan mulai hari ini kami yang akan merawatmu, Anak Kucing."


SAM, November 2018

Komentar

Postingan Populer